SELAMAT DATANG DI BLOG RUMAH INSAN BELAJAR || BAGI YANG INGIN MEMPUBLIKASI ULANG MENGENAI ISI DARI BLOG INI HARAP CANTUMKAN LINK SUMBER DAN PENULIS. TRIM'S
Tampilkan postingan dengan label SERI SEKOLAH INKLUSI DALAM BELAJAR BERBEDA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SERI SEKOLAH INKLUSI DALAM BELAJAR BERBEDA. Tampilkan semua postingan

Delapan Tipe Masyarakat Multietnik

Selasa, 04 Agustus 2015 |




DELAPAN TIPE MASYARAKAT MULTIETNIK


MASYARAKAT MULTIETNIK memiliki beberapa karakteristik yang dapat kita lihat pada delapan tipe yang digambarkan oleh Young sebagaimana yang dikemukakan oleh Koentjaraningrat (1988) dalam Boedhi Oetoyo (2013:1.4) bahwa di dunia ini setidaknya ada delapan tipe masyarakat multietnik. Tipe Pertama, terdapat disebagian besar negara-negara maju di Eropa Barat. Penduduknya terdiri dari sejumlah suku bangsa, di mana salah satu suku bangsa itu merupakan suku bangsa yang dominan, sedangkan sisanya adalah suku-suku bangsa minoritas. Di sini, kebudayaan perkotaan yang telah berusia ratusan tahun. Di Eropa Timur, ada juga negara-negara yang serupa dengan negara-negara yang terdapat di Eropa Barat, di mana negara-negara di Eropa Timur itu masih mengandalkan ekonomi pertanian karena karena sektor yang sangat penting. Contohnya adalah Hongaria yang penduduknya didominasi oleh bangsa Magyar, juga negara-negara Polandia, Rumania, Bulgaria, dan Albania.
      Tipe Kedua, ditemukan di negara-negara yang ditinggali oleh keturunan para imigran yang berasal dari Eropa hampir satu abad yang lampau dan menjadi dari penduduk atau suku bangsa yang dominan. Kebudayaan nasional dan bahasa nasional dari negara-negara ini adalah kebudayaan dan bahasa para imigran tadi. Penduduk pribumi maupun para imigran yang bukan Bangsa Eropa yang datang kemudian, dipandang sebagai warga negara kelas dua atau sebagai penduduk minoritas yang tidak penting dan bahkan ada beberapa suku pribumi yang dipunahkan. Beberapa negara tipe kedua ini tergolong negara yang paling maju ekonominya di dunia seperti Kanada, Australia, dan Selandia Baru. Kecuali itu ada sejumlah negara yang tergolong kurang berkembang ekonominya seperti negara-negara Amerika Latin dan negara-negara Afrika Selatan.
     Tipe Ketiga, adalah negara-negara yang wilayahnya merupakan daerah asal dari bangsa-bangsa yang dipindahkan atau bermigrasi ke Amerika atau Eropa. Penduduk negara-negara ini, pada umumnya, keturunan dari bangsa-bangsa yang dipindahkan atau bermigrasi tadi, yang kemudian dikembalikan lagi ke daerah asalnya masing-masing oleh kekuatan-kekuatan politik dari negara-negara maju di Amerika atau Eropa. Contohnya adalah Liberia di Afrika Barat dan Israel, dua negara yang sedang berkembang ekonominya. Masyarakat multietnik di kedua negara tersebut terdiri dari bangsa-bangsa yang dipulangkan ke sana dan menjadi golongan yang berkuasa. Penduduk yang sudah ada lalu menjadi golongan minoritas di negara itu.
     Tipe Keempat, terdapat di negara-negara Asia dan Afrika yang memiliki peradaban kuno dan kerajaan-kerajaan tradisional, serta memiliki sejarah yang panjang. Suku-suku bangsa kerajaan adalah suku-suku bangsa yang berkuasa di dalam masyarakat, sedangkan suku-suku bangsa lainnya di wilayah negara-negara tersebut hanya menjadi penduduk minoritas. Hampir semua negara ini pernah dijajah oleh salah satu negara Eropa Barat, dan kini tergolong sebagai negara dan ekonomi yang sedang berkembang. Ketika keekuasaan penjajah tergeser habis Perang Dunia II, muncul negara-negara merdeka yang masih memiliki sistem kerajaan, seperti Maroko, Swazi, Kuwait, Oman, Qatar, Nepal, Laos, dan Malaysia. Namun ada pula negara-negara baru meredeka sudah menghapuskan sistem kerajaan yang ada sejak jaman penjajahan, seperti Libia, Madagaskar, dan Birma. Sebaliknya, ada negara-negra yang menjadi merdeka setelah sistem Kerajaan digulingkan oleh gerakan politik dan revolusi, seperti yang terjadi di Tunisia, Rwanda, Burundi, Mesir, Vietnam dan Kamboja.
     Tipe Kelima, terdapat pada beberapa negara saja yang ada di Afrika dan Asia yang juga memiliki peradaban kuno dan kerajaan tradisional dengan sejarah yang panjang pula. Di sini, suku bangsa yang berkuasa adalah suku bangsa kerajaan, sedangkan suku-suku bangsa lainnya tergolong sebagai suku minoritas. Hanya saja, berbeda dengan suku bangsa tipe keempat, negara-negara yang tergolong ke dalam tipe kelima ini tidak pernah dijajah oleh suatu negara Eropa Barat, kecuali mungkin oleh pendudukan militer yang tidak banyak membekas pada masyarakatnya. Sistem kerajaan tradisional di sini digulingkan oleh gerakan revolusi, seperti yang terjadi di Etiopia, Iran, Afganistan, dan Cina, atau seperti yang terjadi di Muangthai.           Tipe Keenam, terdapat di negara-negara yang mula-mula terbentuk oleh sistem kolonial. Penduduk yang dominan adalah para migrant yang dibawa kaum penjajah dari daerah-daerah Afrika atau Asia untuk dijadikan tenaga kerja di perkebunan-perkebunan atau di pertambangan-pertambangan. Pada akhir jaman kolonial, keadulatan jatuh ke tangan para penduduk migrant tadi. Kebudayaan nasional dari negara yang baru ini adalah kebudayaan dari para penguasa yang datang ke daerah itu sebagai migran. Suku-suku bangsa pribumi di dalam negara-negara tersebut adalah penduduk yang kebudayaannya masih terkebelakang dan merupakan minoritas yang tidak berani. Contohnya Guyana, Jamaika, Barbados, Trinidat dan Suriname di Amerika Latin, serta Singapura di Asia Tenggara.
     Tipe Ketujuh, adalah terdapat di negara-negara dengan batas-batas wilayah yang ditentukan oleh sejarah kolonialisme. Suku-suku bangsa yang tinggal dalam negara seperti itu oleh pengalaman yang sama, yaitu pernah dijajah oleh salah satu bangsa dari Eropa Barat. Semua suku bangsa merasa dirinya mempunyai kedudukan yang sama sebagai suatu negara yang baru merdeka dan sedang berkembang, hal-hal yang terkait dengan pembentukan identitas nasional, solidaritas nasional, ideology nasional, dan kebudayaan nasional merupakan bagian yang penting di dalam pembangunan nasionalnya. Contohnya Nigeria, Zaire, Kamerun, Kenya, dan Uganda yang berada di Afrika, sedangkan yang berada di Asia adalah Yordania dan Philipina.
     Tipe Kedelapan, seperti halnya tipe ketujuh, negara-negara dengan tipe ini adalah negara-negara dengan batas-batas wilayah yang ditentukan oleh sejarah kolonialisme. Suku-suku bangsa yang tinggal di dalamnya di satukan oleh pengalaman yang sama yaitu pernah dijajah oleh suatu bangsa dari Eropa Barat. Semua suku bangsa menganggap dirinya sama tinggi kedudukan dan derajatnya sehingga pembentukan identitas nasional, solidaritas nasional, ideologi nasional, dan kebudayaan nasional merupakan bagian dari upaya pembangunan nasionalnya. Hanya saja, bedanya dengan negara-negara pada tipe ketujuh adalah bahwa ada beberapa suku bangsa di sini yang memiliki peradaban yang sangat tua serta memiliki sejarah kebudayaan yang panjang sehingga ada persamaan unsur-unsur dan nilai-nilai kebudayaan yang secara esensial sama dengan kebudayaan-kebudayaan dari tiap-tiap suku bangsa yang ada. Kadang-kadang bahkan ada suatu bahasa nasional yang dipahami oleh sebagian besar warga dari mayoritas suku bangsa di negara yang bersangkutan. Contoh dari negara-negara ini adalah Tanzania, Aljazair, Syria, Irak, Pakistan, India, Sri Langka, Indonesia. Di Eropa juga ada negara-negara seperti itu, yaitu Czeskoslavakia dan Yugoslavia, dua negara yang sedang berkembang, serta Belgia dan Swiss, dua negara dengan ekonomi yang telah maju. (Lihat tulisan Koentjaraningrat Masyarakat dan Kebudayaan, 1988).

 

ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS

Senin, 03 November 2014 |



“ABK adalah peserta didik berkebutuhan khusus
dengan gangguan tertentu”


          ABK sering diartikan sebagai penyandang disabilitas (disabilty) yang mental, intelektual, maupun indera jangka panjang yang dalam interaksinya menemui berbagai hambatan untuk berpartisipasi secara penuh dalam kehidupan bermasyarakat berdasarkan atas asas persamaan. (CRPD, Convention on The Rights of People with Disability atau Konvensi Hak Penyandang Disabilitas Internasional). Konvensi PBB ini telah ditandatangani oleh Pemerintah Indonesia pada tanggal 30 Maret 2007 sebagai wujud komitmen Pemerintah terhadap isu-isu disabilitas.
          Walaupun istilah-istilah IMPAIRMENT, DISABILITAS, DAN HANDICAP dalam bahasa Indonesia belum mendapat padanan kata yang tepat, namun Badan Kesehatan PBB WHO (World Health Organization) memberikan kemudahan kepada kita untuk memahami ketiga sebagai berikut:
Impairment, dimaknai sebagai kelainan  yang bersifat sementara maupun permanen pada impairment dapat diartikan sebagai gangguan fungsi afektif pada mental (ingatan, kesadaran) atau indera (mata telinga, dll), atau organ tubuh dalam (jantung, ginjal), atau organ tubuh luar (kepala, badan), atau juga anggota gerak.
Disabilitas, terhambatnya atau ketidakmampuan seorang individu untuk melakukan kegiatan atau berpartisipasi dengan cara yang dianggap impairment atau kelainan; dan
Handicap, istilah ini mengacu pada akibat yang ditimbulkan oleh impairment atau disabilitas yang membatasi atau mencegah seorang individu untuk menjalankan perannya dalan cara yang dianggap normal terkait usia, jenis kelamin, faktor sosial dan juga budaya.
          Konsep ABK selanjutkan akan terus berkembang sesuai dengan perkembangan pemikiran-pemikiran mengenai bagaimana cara terbaik untuk membantu anak dan remaja beserta keluarganya yang telah mengalami perubahan yang signifikan. Pergeseran paradigma tersebut tentunya akan berdampak terhadap munculnya istilah-istilah atau predikat-predikat terhadap ABK. Perubahan makna bisa jadi disebabkan oleh perubahan filosofi, sikap, dan praktek profesional yang terkait dengan bantuan bagi ABK.
          Sampai akhir 1970-an, intervensi didominasi oleh apa yang disebut sebagai “pendekatan berpusat pada para profesional.” Orientasi ini berimplikasi bahwa para profesional membuat diagnosis, memberi resep untuk perlakuan, dan bertanggung jawab atas pelaksanaannya. Sementara itu pada tahun 1980-an, praktek profesional seperti itu berubah dibanyak bidang menjadi apa yang dapat disebut sebagai pendekatan yang lebih berorientasi keluarga. Tahun 1990-an terdapat perubahan lebih lanjut menuju pendekatan berpusat pada keluarga dalam melaksanakan intervensi. Konsep baru kemudian diperkenalkan melalui pernyataan Salamanca dan beberapa konsep diperkenalkan sebelumnya. Konsep-konsep ini penting karena menggambarkan proses dan perubahan saat ini. Pernyataan Salamanca menekankan semua anak dapat dididik walaupun mengalami hambatan belajar dan perkembangan yang sangat berat.[1]
          Oleh para ahli ABK dikelompokkan menjadi dua jenis yaitu ABK menetap (permanen) dan ABK sementara (temporer). Skjorten,M.D, (2003) menegaskan bahwa semua anak memiliki kebutuhan khusus hanya ada yang bersifat temporer ada yang bersifat permanen maupun temporer dapat dilihat dari kondisi sosial emosional, dan/atau kondisi ekonomi, dan/atau kondisi politik, dan/atau kelainan bawaan dan/atau kelainan yang didapat pada awal kehidupannya atau kemudian. Hambatan belajar dan perkembangan dapat terdiri dari banyak bentuk. Dimasa lalu, pendekatan-pendekatan pengajaran anak berkebutuhan khusus ditentukan oleh diagnosis media yang diberikan kepada mereka dengan pendekatan tersebut, anak-anak dengan diagnosis yang serupa harus diajar dengan cara yang sama. Sekarang disadari baahwa walaupun pembelajaran akan dipengaruhi oleh kelainan, tetapi ada faktor-faktor lain yang lebih penting yang membuat perbedaan.
          Perbedaan merupakan keniscayaan yang pasti terjadi pada setiap makhluk, tidak terkecuali makhluk yang bernama “manusia.” Manusia sebagai insan yang berakal budi yang memiliki potensi mengusai makhluk lain, dikatakan normal bila sesuai dengan keadaan biasa. Seperti kebanyakan secara umum. Namun disekitar kita ditemui pula manusia yang tidak biasa, memiliki kekurangan atau bahkan kelebihan sehingga nilai mutunya kurang baik atau terlalu baik, secara fisik, mental atau sosial. [βểld@]


[1] Pokja Pendidikan Inklusif, Pedoman Teknis Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif Propinsi Kalimantan Selatan. Dinas Pendidikan Propinsi Kalimantan Selatan, 2013.

PESONA CANDI-CANDI

Senin, 25 Agustus 2014 |




PESONA CANDI-CANDI

"CANDI PRAMBANAN"

Pesona keindahannya sebagai peninggalan kebudayaan Hindu terbesar di Indonesia., bukan hanya dari bentuk bangunan, tata letaknya yang sungguh menakjubkan. Tetapi juga sejarah dan legendanya sangat unik dan menarik. Kompleks Candi Prambanan memiliki tiga bangunan utama yang indah setinggi 47 meter. Candi yang dibangun pada masa pemerintahan Rakai Pikatan Raja Mataram I atau Balitung Maha Sambu dari Wangsa Sanjaya sekitar tahun 850. Candi yang pernah ditinggalkan pendukungnya bermigrasi ke Jawa Timur karena letusan dahsyat Gunung Merapi tahun 950, diakui UNESCO sebagai warisan budaya dunia sejak tahun 1991.

CANDI AGUNG

Langit di atas Candi Agung, terang benderang. Matahari tak terhalang apapun. Awan atau pun pohon.  Mungkin awan sedang libur. Atau lagi melakukan perjalanan. Sama seperti yang kami lakukan. Abah, aku dan adikku menuruni tangga museum. Barusan  beberapa  saat yang lalu. Kami berada di dalamnya. Dalam sebuah ruang mirip kamar. Kamar di dalamnya ada tempat tidur. Katanya tempat tidur “Putri Junjung Buih”. Depan sebuah mahligai.
Tak terhalang apapun. Mataku tertuju pada tulisan “Telaga Darah”. Tak terkecuali Legawa, ia juga melihat tulisan itu. Ia lebih gesit dariku. Hati berteriak menyemangati kaki. Untuk mempercepat langkah, mengambil jalan itu. Tetap saja didahului Legawa. Abah dengan sigap mensejajarkan langkah. Meraih tangan kami. Dengan senyumnya yang khas. Ia berujar.
“Telaga ini disebut juga, Lubuk Badangsanak”
Sebuah telaga lebih mirip sumur. Sumur yang diberi atap sirap seukuran 3 kali 3 meter. Dan dikelilingi pagar kayu ulin setinggi kurang lebih 1 meter. Dekat dua tiang di depannya dipasang kain berwarna kuning. Disebelah kiri tiang bangunan bertuliskan Empu Mandastana. Serumpun bambu kuning tua nan lebat, tepat disebelah kanannya. Tak ada tulisan selain itu. Tak ada juru penerang. Tak ada penjelasan selain itu. Tak ada yang mendukung penjelasan Abah. Bahwa telaga ini dinamakan juga Lubuk Badangsanak. Tetapi Abah mencoba meyakinkan kami. Legawa duduk pada anak tangga, dekat jalan depan telaga. Dan aku berdiri dibelakangnya.  Dengan rasa ingin tahu.
Matahari di atas Candi Agung masih terang benderang. Tak terhalang apapun. Tak seperti rasa ingin tahu kami saat ini. Kitai saja di dekat telaga itu terdapat tulisan. Tulisan yang dapat menjelaskan, kepada kami, tentang sejarah telaga ini. Tentu semuanya menjadi terang benderang. Seterang matahari di atas Candi hari ini.
Legawa berdiri, sejajar denganku. Kami berjalan diikuti Abah dari belakang. Kali ini aku berinisiatif, mengambil jalur baru. Jalur baru ini bukan jalan biasa. Melainkan titian panjang dari kayu ulin. Titian ini menuju bangunan Candi.
“Jalur ini cukup nyaman, rapi lagi bersih,” menurutku
“Tapi sayang masih ada coretan” kata Legawa.
Memang sayang, situs ini membutuhkan sentuhan tangan-tangan peduli. Yang berniat untuk menjaga dan melestarikannya.  Bukan tangan usil yang mencoret-coretnya. Coretan  dengan cat, spidol atau apapun. Coretan itu hanya berisi nama, atau kata-kata. Coretan yang tak bermanfaat. Akan lebih bermanfaat, jika kreativitas tersebut, digunakan untuk menulis keterangan pada setiap situs-situs ini.
Seperti telaga tadi, apa hubungannya dengan Empu Mkitastana. Dan mengapa diberi nama Telaga Darah. Mengapa juga disebut Lubuk Badangsanak.
Mpu Mkitastana adalah saudara Lambung Mangkurat. Dia mempunyai dua orang anak yaitu Bambang Patmaraga dan Bambang Sukmaraga. Mereka ternyata tertarik dengan kecantikan putri Junjung Buih yang tiada  tara. Karna merasa kedua putra Mpu Mkitastana ini tidak sesuai untuk sang putri . Maka Lambung Mangkurat membunuh kedunya. Di sebuah danau sekitar kerajaan sehingga sekarang disebut “ Lubuk Badangsanak atau Telaga Darah”
         
FILM 3 BOROBUDUR

Borobudur merupakan candi yang dibangun oleh raja Smaratungga di tahun 824 Masehi dan berdasarkan prasasti Kelurak, pembangunannya baru selesai pada tahun 847 Masehi oleh putrinya, Ratu Dyah Pramudawardhani. Candi ini ditemukan oleh Sir Thomas Stamford Raffles, seorang Gubernur Jenderal Inggris di Jawa.
          Borobudur merupakan salah satu bukti kemajuan dan kejayaan bangsa Indonesia dalam ilmu pengetahua yang dan teknologi. Kejayaan yang sudah sepantasnya menjadi kebanggaan sekaligus inspirasi kita membangun masa depan bangsa.
          Pada tahun 1991, Borobudur ditetapkan UNESCO sebagai warisan dunia. Tahun 2012, Guiness World Records  Borobudur sebagai situs arkeologis Candi Buddha terbesar di Dunia.

CANDI AGUNG dan CANDI LARAS

Di sebelah Timur cahaya matahari mulai tampak. Semburatnya menembus diantara sempirai beringin tua. Kicauan burung bersahutan dari dahan pohon jambu ditepian sungai Muara Bahan. Bumi seperti terlahir kembali dengan segala warnanya. Memberi nuansa keindahan alam sampai sepajang sungai Anjir Sarapat.
Suasana alam yang semula sejuk mulai berangsur hangat. Kehangatan yang lembut tetapi seakan mau menembus dasar sungai yang bersih dan tenang. Setenang gerak sebuah jukung Hawaian yang mengikuti arus sungai Balkitaian menuju Tamban. Seorang bocah berusia belasan tahun mengayuh dayungnya mengikuti irama alam nan damai.
“krutok…krutok…krutok…krutok…”
Bunyi benturan dayung menyentuh sisi biduk kayu seakan bersahutan dengan suara satwa dan seranga di pinggiran hutan Borneo. Sesekali ditimpali bunyi denting sampe (alat musik suku Dayak Kayaan dan Kenyah mirip gitar berdawai tiga), yang membahana entah dari mana. Dari dalam hutan, dasar sungai, atau berasal dari dalam lubuk hatinya.
“Entahlah…,” gumam bocah itu sambil menarik nafas dalam-dalam. Berusaha mendamaikan hatinya yang sedang bergermuruh.
Bocah itu terus mendayung jukungnya. Sambil sesekali menimba air yang seakan mau menemani kesendiriannya di perahu kecil ini. Dia memang sendiri, hanya sebuah alat pancing, lunta (jala), menemaninya. Ketika bekal perjalanannya mulai menipis seperti beras dan beberapa ekor ikan kering, maka lunta itulah yang digunakannya, agar dirinya tidak terlunta-lunta, bagai orang yang  terbuang
Sekilas bocah ini sama dengan kakanakan kampung dibantaran sungai Muhur dan Alalak.  Pakaiannya lusuh, hanya salawar katuk dan baju tanpa lengan. Wajahnya  tidak terlalu nampak karena tertutupi topi purun yang lebar.
Tetapi jika diamati, ada yang terasa aneh pada bocah ini, terutama bagi yang kebetulan berpapasan dengannya dan mengamatinya dengan seksama. Si Tanggung ini terlihat bukan seperti anak-anak sekitar bataran sungai Muara Bahan,  Anjir Sarapat – Baladaian- Tamban- Muhur- Alalak- bahkan sampai Sungai Kuin. Wajahnya tampan, kulitnya bersih, gerakannya tenang serta tatapan matanya tampak berwibawa.
Di bantaran sungai ini, hampir setiap hari ia tidak alpa menyaksikan matahari menyemburatkan cahayanya diantara dedaunan, ranting, dahan pepohonan sepanjang sungai.  Entah berapa ratus kali pula ia memergoki rembulan mencumbui malam.
Entah berapa ratus kali ia mengikuti ritual alam ini. Entah berapa ribu kali biduk ini menendangkan irama anak nelayan. Irama pengembaraan di Muara Barito yang luas dan panjang. Seluas mata memandang hanya kumpulan eceng gondok (ilung) yang diombang-ambingkan gelombang.
Perawakannya tegap, berkulit putih bersih, serta berparas rupawan. Wajahnya tampak lebih dewasa dibanding usianya. Sepertinya bocah ini tidak terbiasa terpanggang terik matahari, terlihat dari kulit muka dan tanganya mulai memerah. 
Entah berapa lama ia mengarungi bantaran sungai ini. Jika hujan lebat atau panas terasa terik dia mencari tempat untuk berteduh. Bila malam mulai menyapa ia mencari tempat untuk berteduh, kadang di bawah pohon, tetapi tidak jarang ada urang kampung bermurah hati mengijinkannya menginap. Dini hari ia berpamitan untuk memulai perjalanannya lagi. Itu semua karena penampilan, tutur kata dan pribadi bocah tanggung ini yang menyenangkan siapa saja yang dijumpainya.
Bocah ini mengumpulkan hasil tangkapan sambil mengayuh dan merapatkan jukungnya  di kampung Kuin.  Beberapa pasang mata, mengikuti gerak langkah kaki bocah ini. Tampak tegap dan pasti, dan langkah itu bukan langkah bocah kebanyakan.. Langkah itu terhenti di depan seorang  bapa paruh baya sambil menatap bocah tersebut dari ujung kaki hingga kepala.
Dia adalah seorang patih bernama Patih Masih. Orang terpkitang di wilayah Kuin dan sekitarnya. Merasakan  ketajaman tatapan mata bapak tersebut bocah ini spontan melepaskan topi purun  dan terlihatlah seluruh wajahnya.
“ Tuanku Pangeran?”  kalimat pertama yang terlontar dari bibir berkumis dan jenggot yang beberaqpa mulai memutih itu. Sebuah pertanyaan tetapi lebih bermakna untuk meyakinkan.
“Paman Patih”, bocah yang dipanggil Raden ini menjatuhkan diri dikaki Patih Masih.
“Bangunlah Tuanku, hamba jadi merasa risih.”
“Tolonglah paman, untuk sementara waktu sembunyikanlah dahulu identitas ulun dari urang kampung, demi keselamatan kita bersama.”
“Maafkan hamba Pangeran”, sambil menyudurkan  kelapa muda yang barusan dikupas.
“Lupakanlah paman, ini mungkin sudah garis tanganku,”  tangannya menerima buah kepala muda, dan menempelkan bibirnya pada kelapa yang dilubangi.
“Kami telah lama mengawasi Pangeran sejak memasuki kampung Balkitaian, khawatir kalau penyamarannya terbongkar,”
“Terima kasih Paman, saya cukup berhati-hati dalam hal ini, dan paman Arya Taranggana sangat membantu dalam menyiapkan segalanya”
“Hamba tidak menyangka jika wasiat Raja Sukarama, kakek Pangeran berbuah seperti ini.” Kerajaan Negara Daha diambang kehancuran jika angkara murka dan keserakahan tidak dihentikan.
Sebagaimana diketahui Maharaja Sukarama memerintah dikerajaan Negara Daha. merupakan keturunan ke-7 dari kerajaan Negaradipa yang diperintah oleh Pangeran Surianata dan Putri Junjung Buih.
Pangeran Samudera termenung, ia teringat dengan apa yang diucapkan paman Arya Taranggana, untuk segera menyelamatkan diri, keluar dari batas Kerajaan Negara Daha. Kala itu ia masih berusia 7 tahun. Tidak begitu mengerti mengapa ia harus meniggalkan kerajaan, tempat ia mengukir kenangan bersama kakeknya. Di lingkungan kerajaan yang telah lama membesarkannya. Tetapi berkat kesabaran Paman Arya Taranggana yang kala itu menjadi Mangkubumi, menjelaskan bahwa wasiat kakeknya Raja Sukarama yang mewariskan Tahta Kerajaan Negara Daha kelak kepadanya. Dan wasiat itu secara diam-diam tidak mendapat persetujuan dari paman-pamannya terutama Pangeran Tumanggung. Maka jadilah kini ia sebagai “Putera Mahkota yang Terbuang”.
Pangeran Samudera menyadari jika ia tidak menuruti nasehat paman Arya Taranggana, maka tamatlah riwayatnya. Dan kewajibannya untuk meneruskan garis keturunan abahnya Raden Mantri Jaya dan mamanya Putri Galuh (Puteri Intan Sari) juga menjadi sia-sia.
Putri Galuh merupakan putri bungsu Raja Sukarama, kakeknya. Dan keduanya telah tiada, dia menjadi yatim piatu sejak masih kakanak halus (balita). Kakeknyalah yang selama ini mendidiknya, merawat, membimbing, dan menyayangi sepenuh hati.
Mulai saat itu Pangeran tinggal menetap di Kuin. Ia menjadi anak angkat Patih Masih orang yang paling berpengaruh di wilayah itu. Tak seorangpun tahu kalau anak angkat Patih Masih ini seorang bangsawan. Seorang Pangeran, Putera Mahkota Kerajaan Negara Daha. Setelah dewasa maka pengelolaan seluruh wilayah negeri Kuin ini diserahkan Patih Masih kepada anak angkatnya. Pengangkatannya menjadi pengelola bkitar mendapat banyak dukungan bak gayung bersambut.  Apalagi setelah mengetahui rahasia kalau anak angkat Patih Masih itu adalah Putera Mahkota.
Bkitar Masih bercahaya, Tak begitu lama Bkitar Masih menjadi kota bkitar yang paling ramai dikunjungi. Para pedangan asing mulai berdatangan untuk berniaga. Tak ketinggal warga udik dari hulu turut menjual hasil kebun dan sawahnya. adapula yang datang hanya menguji peruntungannya, siapa tahu di bkitar yang baru ini nasibnya akan berubah. mereka datang dari Negara Daha bahkan juga dari Negara Dipa.
Kabar kemajuan Bkitar Masih cepat tersiar sampai kepenjuru banua. Begitu pula rahasia keberadaan Pangeran Samudera mulai sampai ketelinga Raja Temenggung.  Raja Temenggung murka. Dengan membawa pasukan bersenjata, tentara kerajaan Negara Daha ini melakukan penyerangan ke Bkitar Masih. Peperangan di Muara Alalak tak terhindarkan lagi.
Banyak korban kedua belah pihak berjatuhan. Namun akhirnya pasukan Kerajaan Negara Dipa berhasil dipukul mundur oleh pasukan Pangeran Samudera yang dibantu oleh pasukan Kerajaan Demak di Jawa Timur. Pasukan dipimpin oleh Fatahillah atas perintah Sultan Trenggono, Sultan Demak kala itu.
Setelah perang berakhir dengan kemenangan, Pangeran Samudera menetapi janji untuk memeluk agama Islam, kemudian diikuti oleh pembesaar lainnya. Khatib Bayan adalah ulama yang membantu prosesi peng-Islaman tersebut. Beliau adalah mubaligh yang secara khusus didatangkan dari Demak. Dan bersamaan dengan itu Pangeran Samudera berganti nama dengan “Sultan Suriansyah” dengan gelar “Penambahan Batu Habang”.
“Aa Cultan…aa Cultan…aa Cultan…jayatkan kakambannya, jayatkan kakambannya  (ikatkan selendangnya red)…aaaa …Cultan !”
Sultan terperanjat ketika melihat Adinda Galuh telah berada didepannya sambil merengek-rengek minta dipasangkan  kakambang habang dipinggangnya.
“Baiklah ding, maafkan kakak tadi ketiduran,” jawab Sultan sambil mengikatkan selendang dipinggang adiknya yang masih berusia 3 tahun. Tapi sudah mulai menyukai tarian lagu-lagu Banjar terutama lagu “Kakamban Habang” ciptaan  Anang Ardiansyah.
“Ketiduran?,” benarkah aku telah ketiduran setelah membaca buku “Pangeran Samudera  buku cerita Rakyat asal Kalimantan Selatan yang ditulis Syamsiar Seman dan Anggaini Antemas?”.
Buku itu aku pinjam dari perpustakaan sekolahku SD Negeri Banjang 2. Aku penasaran tentang namaku mengapa Sultan Suriansyah? Ternyata  itu gelar seorang raja? Dan bocah dalam cerita tadi adalah Pangeran Samudera,. Kalau begitu aku Pangeran Samudera. Mengapa abahku memberiku nama Sultan Suriansyah?
          Apa yang kita kemukakan di atas merupakan bagian dari produk kebudayaan dan peradaban bangsa Indonesia. Bangsa yang telah menanamkan nilai-nilai kebersamaan dalam perbedaan. Nilai-nilai yang dilkitasi oleh jatidiri dan karakter bangsa. Nilai-nilai luhur bangsa yang sudah semestinya menjadi referensi bagi setiap anak bangsa. Siapa pun dia dan apa pun profesinya dituntut partisipasi nyatanya. Sebesar dan sesederhana apa pun peran dan upayanya.[βểld@]